cfc1 Anna Karenina I : Toko Buku Online - Kutukutubuku.com
Welcome Guest! Silakan Sign In untuk membeli buku secara online. Pelanggan Baru? Sign Up disini

Anna Karenina I

Penulis : Leo Tolstoi
Penerbit : KPG
ISBN : 9799100666
Halaman : 600
Harga : 65,000.00 55,250.00 (Anda hemat 9,750.00)
Out Stock

Descriptions

Anna Karenina merupakan novel kedua adikarya Tolstoi yang diterbitkan oleh KPG. Novel pertama yang diterbitkan adalah Kebangkitan. Novel ini berkisah cinta seorang istri yang mencederai perkawinan dan akhirnya mengakhiri hidupnya di bawah roda kereta api.

Tolstoi mengambil panggung tiga macam keluarga di Rusia pada masa itu: keluarga Stiva Oblonskii dan Dolly, di mana sang suami menyeleweng, keluarga Karenin di mana sang istri, Anna, tak mampu mengekang perasaannya dan memutuskan tali perkawinan, dan akhirnya keluarga ideal Konstantin Levin dan Kitty yang menikmati kebahagiaan, sesudah mengalami serentetan cobaan. Ketiga keluarga itu punya hubungan kekerabatan selaku kakak-beradik, menurut garis suami-istri, atau sebelumnya belajar di Universitas yang sama.

Novel Leo Tolstoi yang Banyak Dibaca di Dunia I Pujangga besar Rusia, Lev (Leo) Nikolayevich Tolstoi (1828-1910), terkenal terutama karena novel epik sejarahnya, Voina i Mir (Perang dan Damai) mengenai perlawanan rakyat Rusia terhadap invasi Napoleon pada 1812. Dalam perlawanan itu kaum bangsawan dan rakyat biasa bertekad bulat membela tanahairnya. Namun, karya Tolstoi yang paling luas dibaca orang dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing adalah novelnya yang kedua, Anna Karenina, khusus menyoroti kehidupan pribadi kaum bangsawan dan golongan high society Rusia pada zamannya.

Tolstoi sendiri dilahirkan dan dibesarkan di tengah-tengah golongan ningrat. Karena itulah ia bisa menggarap tema novel itu dari sudut pandang orang dalam. Beberapa anggota keluarganya tercacat dalam sejarah Rusia sejak abad ke-16, bahkan ayahnya, Graf (Comte) Nikolai Ilyich Tolstoi, ambil bagian dalam perang melawan Napoleon pada 1812-1814 dengan pangkat letnan kolonel.

Cerita pokok Anna Karenina, yakni tentang seorang istri yang mencederai perkawinan dan akhirnya mengakhiri hidupnya di bawah roda keretaapi, dikenal luas seperti halnya cerita Don Kisot karya Cervantes atau Hamlet karya Shakespeare. Konflik utama novel ini juga pernah dilayarputihkan paling sedikit sepuluh kali, baik di Rusia maupun di mancanegara, dibintangi oleh Greta Garbo, Vivian Leigh, Tatiana Samoilova, dan bintang film lainnya.

Sampai sekarang, Anna Karenina masih terus disalin dan diterbitkan dalam berbagai bahasa. Bayangkan saja! Hingga akhir abad ke-20, Anna Karenina telah diterjemahkan dan diterbitkan 625 kali dalam 40 bahasa (ini tidak termasuk penerbitan dalam bahasa aslinya). Dalam bahasa Inggris saja, hasil terjemahan yang berbeda pernah dicetak 75 kali, Belanda 14 kali, Jerman 67 kali, Prancis dan Itali 36 kali, Cina 15 kali, dan Arab 6 kali.1

Semua ini karena yang pokok dan paling menarik dalam Anna Karenina bukan jalan ceritanya—yang agak mirip dengan banyak novel lain—melainkan berkat “ketelitian penggambaran seluk-beluk dunia batin para tokohnya�, ungkap Leo Tolstoi sendiri. Bertolak dari jumlah terjemahan dan penerbitannya, maka menurut istilah sekarang novel ini bisa disebut bestseller. Dan seandainya istilah pasaran ini dipakai semasa Tolstoi hidup, pasti ditolaknya dengan marah, karena justru pasar dan perilaku kapitalistis, dengan slogan homo homini lupus (manusia adalah srigala terhadap manusia lainnya), yang paling dikecam dan ditolaknya.

Tapi perlu dikemukakan dalam hal ini bahwa dalam kenyataan hidup Tolstoi, yang masa itu sibuk menulis buku-buku pelajaran untuk anak-anak petani di tanah miliknya dan merumuskan gagasan-gagasan etis-filosofisnya, awalnya ia benar-benar ingin "mengaso sebentar" dengan menulis sesuatu yang agak enteng tanpa menyinggung problem-problem sosial dan filsafat yang rumit. Dalam salah satu suratnya Tolstoi bahkan menyatakan keraguannya, akankah novel mengenai seluk-beluk kehidupan suami-istri kaum ningrat menarik perhatian pembaca Rusia yang terbiasa dengan bacaan berbobot dengan problem-problem besar.

Walaupun demikian, sebagaimana dijelaskan oleh Tolstoi sendiri, rancangan buku ini sejak awal mengalami perubahan, seolah-olah para tokoh yang sudah setengah terwujud itu memaksanya berpindah dari lorong sempit ke jalan yang luas: “Isi karya yang kuciptakan,� demikian diakuinya, “akhirnya menjadi baru juga bagiku, seperti bagi mereka yang membacanya.� Karena itu, akhirnya, terbentuklah apa yang disebutnya dalam bahasa Perancis roman de long haleine (novel napas panjang) sebagaimana semua karyanya yang lain.

II

Sesudah dirancang pada 1870, novel Anna Karenina ditulis, diubah dan diperbaiki lagi selama hampir lima tahun (1873-1877). Tujuh dari delapan bagiannya dimuat tiga tahun berturut-turut di majalah Russkii Vestnik (Pewarta Rusia), sedangkan bagian terakhir dicetak tersendiri di luar majalah itu, karena pemilik dan penerbit majalah menuntut perubahan teks, hal yang tak disetujui oleh Tolstoi. Munculnya tiap bagian selalu ditunggu pembaca dengan rasa penasaran, dan selalu menimbulkan perbincangan luas. Tentu saja ada pembaca dan kritikus yang menerima tema dan gagasan novel ini, dan ada pula yang mencelanya, tapi yang terakhir ini pun menyadari bahwa dengan novel ini sastra Rusia mencapai tingkat ketinggian baru.

Fyodor Dostoyevskii (1821-1881), misalnya, dalam catatannya dengan mengutip ucapan lisan penulis kenamaan lainnya, Ivan Goncharov (1812-1891), menulis sebagai berikut: “Ini karya yang luarbiasa, karya kelas wahid. Siapa di antara penulis kita yang sanggup menandinginya? Dan di Eropa? Siapa yang mampu menciptakan karya setara ini?� Sedangkan Dostoyevskii sendiri menyatakan bahwa “…penggarapan batin manusianya paling teliti dan realisme seni-tulisnya belum pernah dicapai oleh siapapun sebelum ini.� Penulis terkenal angkatan berikutnya, Vladimir Nabokov (1899-1977), menyebut Tolstoi sebagai “novelis Rusia terbesar�; ditambahkannya pula bahwa “pembaca menyebut Tolstoi pengarang raksasa bukan karena penulis lain katai, tapi karena Tolstoi senantiasa berjalan amat dekat dengan kita, bukan di kejauhan seperti yang lain.� Thomas Mann, penulis kenamaan Jerman (1875-1955), bahkan pernah menyatakan: “Saya, tanpa ragu, menyatakan bahwa Anna Karenina adalah novel sosial terbesar dalam sastra dunia.�

Tentu saja, latar-belakang sosial hadir dalam semua tulisan mengenai seluk-beluk kehidupan individu, karena manusia bernapas di tengah-tengah masyarakat tertentu. Namun, novel sosial terbesar haruslah mendobrak kerangka kehidupan pribadi orang dan golongannya serta mempersoalkan problem-problem sosial dan filsafat yang luas. Dan benar, biarpun Tolstoi tidak dengan sengaja menonjolkan problem-problem itu (kecuali dalam bagian terakhir), pembaca yang cermat tentu bisa menghayati gambaran implisit keadaan Rusia pada masa pancaroba sesudah dihapuskannya sistem perhambaan petani pada 1861.

Awalnya, reformasi itu melahirkan harapan akan datangnya kedamaian dan kesejahteraan sosial di dalam negeri, tapi satu dasawarsa kemudian, pada 1870-an, yaitu masa ditulisnya Anna Karenina, harapan itu ternyata tak kunjung terwujud, paling sedikit tidak membawa kemakmuran bagi petani, bagian terbesar penduduk Rusia ketika itu. Mereka dibebaskan dari belenggu perhambaan tanpa mendapat pembagian tanah, sehingga banyak di antara mereka terpaksa mencari nafkah dan melarikan diri ke kota, di mana eksploitasi dan penderitaan justru memuncak: “Semua sedang kacau-balau dan baru mulai diatur,� demikian seorang tokoh novel, Konstantin Levin, yang merupakan alter ego penulis.

Yang terutama mengecewakan Tolstoi adalah situasi rohaniah di Rusia pada umumnya, baik di tengah golongan petani maupun golongan ningrat. Dalam pandangan Tolstoi, keduanya semakin jauh dari cita-cita patriarkal. Bagi dia, kemurnian jiwa rakyat dan Rusia seluruhnya bisa terpelihara hanya dalam kerangka obshchina (rukun desa). Pengertian istilah ini, yang berasal dari kata obshchii, obshchnost’ (umum, kesatuan), merujuk pada suatu lembaga petani di mana hutan dan air merupakan milik bersama, sedangkan sebagian tanah dibagikan tiap tahun sesuai jumlah batih dalam keluarga, serta pada kebiasaan gotong-royong. Lembaga yang berakar dalam sejarah inilah yang justru hancur gara-gara budaya pabrik yang mulai mengembangkan sayap dengan menyingkirkan manusia dari tanah dan merusak akhlaknya. Sejalan dengan keadaan tersebut, Tolstoi juga menyaksikan kemerosotan rohani dan jasmani kaum bangsawan secara luas; mereka, dengan harga murah, menjual tanah pusakanya kepada orang kaya baru dan menghabiskan uang yang diperoleh dengan berfoya-foya. Dalam suasana rawan seperti inilah penulis mengarahkan perhatiannya pada kehidupan keluarga sebagai benteng terakhir di mana kebahagiaan dapat bermukim, biarpun tidak selalu berhasil, atau harus diusahakan dengan susah-payah.

III

Dalam novel Anna Karenina Tolstoi dengan teliti menguraikan seluk-beluk keadaan tiga macam keluarga: keluarga Stiva Oblonskii dan Dolly, di mana sang suami menyeleweng, keluarga Karenin di mana sang istri, Anna, tak mampu mengekang perasaannya dan memutuskan tali perkawinan, dan akhirnya keluarga ideal Konstantin Levin dan Kitty yang menikmati kebahagiaan, sesudah mengalami serentetan cobaan. Ketiga keluarga itu punya hubungan kekerabatan selaku kakak-beradik, menurut garis suami-istri, atau sebelumnya belajar di Universitas yang sama. Kalimat yang mengawali alinea kedua halaman pertama novel Anna Karenina— “Semuanya kacau-balau di rumah Oblonskii�—menjadi ungkapan di Rusia untuk menunjukkan betapa ruwetnya keadaan keluarga atau berbagai bidang kehidupan negara. Dalam novel ini, yang dimaksud adalah keruwetan yang terjadi di keluarga Oblonskii karena sesudah delapan tahun menikah sang istri memergoki perbuatan zina sang suami, dan berniat pindah dengan lima anaknya ke kediaman ayahnya, Graf Shcherbatskii. Yang berhasil meredakan keadaan adalah adik Stiva, Anna. Dia istri seorang pejabat tinggi di Petersburg, Aleksei Karenin. Tapi, tanpa disangka-sangka, Anna sendiri terjerat hubungan asmara dengan seorang opsir muda dari keluarga kenamaan, Aleksei Vronskii, yang amat mengaguminya. Anna menganggap rasa cinta itu sebagai sesuatu yang tak diingini dan berupaya mengenyahkannya dalam hati, namun tak berhasil. Perempuan itu menilai, "kejatuhanya" merupakan malapetaka yang tak dapat ditolak, dan hal itu dijelaskan Tolstoi sebagai berikut:

“Ia merasa dirinya begitu jahat dan bersalah, hingga yang perlu dilakukannya hanyalah merendah dan meminta maaf; dan sekarang tak ada orang lain dalam hidupnya selain Vronskii. Karena itu kepadanya ia meminta maaf […] Adapun Vronskii merasakan apa yang tentunya dirasakan seorang pembunuh ketika menatap tubuh yang sudah ia cabut nyawanya. Tubuh yang telah ia cabut nyawanya itu adalah cinta mereka, cinta mereka di tahap pertama. Terasa mengerikan dan menjijikkan apa yang telah mereka bayar dengan rasa malu yang menakutkan itu. Rasa malu terhadap ketelanjangan jiwa itu menekan diri Anna, dan itu menjalar kepada Vronskii.� (Bagian Kedua Bab XI) Sejak saat itu kesalahan nikmat-tragis itu tetap mengejar Anna sampai ajalnya.

Semula Tolstoi ingin menggambarkan tokoh utama novelnya sebagai seorang perempuan genit yang rentan akhlaknya. Tapi, dalam proses penulisan, martabat Anna diubah secara drastis. Dia muncul sebagai perempuan yang tahu harga diri, jujur, dan dikagumi orang. Ia kawin dengan suaminya yang jauh lebih tua tanpa rasa cinta, karena dibujuk tante yang mengasuhnya, dan sampai pada suatu kali ia tak mampu memahami rasa cinta sejati yang sekarang melandanya secara tiba-tiba. Karena tak bisa hidup dalam suasana dusta seperti banyak kenalannya dari high society, Anna akhirnya mengakui perzinaannya kepada sang suami.

Pembaca dapat mengikuti sendiri liku-liku peristiwa dan dunia batin para tokoh sesudah terbongkarnya rahasia itu, hal yang telah mengoyak-ngoyak jiwa sang suami dan anak kecilnya. Walaupun demikian, tetap juga Anna tak mampu melupakan lelaki yang dicintainya. Tentu saja dalam benak pembaca masa kini timbul pertanyaan: untuk apa mesti timbul kehebohan ini? Kenapa Anna tidak bercerai saja dengan sang suami dan kawin lagi dengan Vronskii yang mengidamkannya? Begitu saja kok repot.

Perlu dipahami, pada masa itu, sesuai peraturan agama Kristen Ortodoks Rusia, biarpun sudah diperbolehkan, perceraian dipandang sebagai aib, dan menurut perundangan tak mudah dilaksanakan. Paling sedikit Anna akan terpaksa mengakui perzinaannya di hadapan juri pengadilan, dan itu baginya amat menyiksa. Lebih daripada itu, ia tak berhak kawin lagi melalui upacara gereja.2 Untuk menyingkirkan rintangan yang menghadang, Vronskii keluar dari dinas ketentaraan dan hidup beberapa lama dengan Anna di mancanegara. Ketika mereka balik ke Rusia, ternyata pintu rumah-rumah terhormat yang didiami orang dengan siapa Anna biasa bergaul tertutup baginya (tapi tidak bagi Vronskii!). Kebanyakan penghuni rumah itu sendiri, yang sekarang tak mau menemui Anna, bukannya tanpa dosa, bahkan penyelewengan mereka sudah jadi rahasia umum, tapi segala penyelewengan itu dilakukan secara "sopan", dibungkus rapi dan tidak diperlihatkan secara terbuka di podium kehidupan.

Dalam novelnya ini Tolstoi mencela kemunafikan high society semacam itu,3 tapi tidak membenarkan pula tingkah-laku Anna, biarpun dalam novel ini ia memperlihatkan bahwa perbuatan dan akibatnya yang fatal ditentukan oleh serangkaian kejadian yang tak terelakkan. Posisi Tolstoi jelas tampak dalam epigraf novel ini, yang dikutip dari Alkitab: “Pembalasan itu adalah hakKu. Akulah yang akan menuntut pembalasan.�

Firman itu diambil dari “Surat Paulus kepada Jemaat di Roma�, yang berbunyi: “Saudara-saudaraku yang terkasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: ‘Pembalasan itu adalah hakKu. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.’� (Nasihat untuk hidup dalam kasih, Bab 12, ayat 19) Semua pembaca, baik di Rusia maupun di mancanegara, selalu bersimpati kepada Anna, dan biasanya menilai novel ini bukan sebagai kecaman terhadap sang tokoh utama, tapi bahkan sebagai pembelaan. Sikap ini muncul karena posisi penulis sendiri, yaitu adanya pertentangan dalam dirinya antara pendekatan artistik dan pendekatan etis-filosofis. Secara artistik Tolstoi mengagumi tokoh utama yang diciptakannya itu, tapi dari sudut etis-filosofis ia tak sudi membenarkan perilakunya, karena dia berpendapat bahwa pengkhianatan terhadap keluarga tak termaafkan. Kebimbangan penulis dalam menilai tokohnya jelas tampak dalam salah satu varian rancangan semula. Dalam varian itu Anna bercerai dengan Karenin dan kawin dengan Vronskii. Namun Tolstoi segera menolaknya, sebab manusia harus bertanggungjawab atas perbuatannya, biarpun langkah yang telah diambilnya tak terelakkan. Kematian Anna merupakan pukulan dahsyat bagi Vronskii, biarpun hubungan mereka menjelang ajalnya sudah tegang hingga Anna mengancam bunuh diri. Ancaman itu benar-benar jadi kenyataan. Tolstoi menulis: “Ia mencoba mengenangkan detik-detik paling membahagiakan bersama Anna, tapi detik-detik itu telah teracuni untuk selama-lamanya. Yang teringat olehnya hanyalah kemenangan Anna yang berhasil melaksanakan ancamannya dan menimpakan kepadanya rasa sesal sia-sia dan tak berkesudahan.� (Bagian Kedelapan, Bab V)

Ibu Vronskii, seorang nyonya pangeran, semula memuja hubungan anak laki-lakinya dengan perempuan bersuami setaraf Anna Karenina sebagai sesuatu yang wajar dan diam-diam diterima oleh high society. Namun ketika sadar bahwa hubungan itu bukan lagi penyelewengan yang remeh, biasa, tapi merupakan cinta buta yang melanggar segala kesusilaan, ia pun mengutuk Anna, yang dianggapnya menghancurkan jiwa dua orang bermartabat sekaligus: putranya Aleksei dan suaminya sendiri. Tapi mereka yang kenal Anna dari dekat biasa menjawab kutukannya dengan parafrase Alkitab: "Bukan kami yang harus menghukumnya." Ucapan itu punya kesesuaian dengan keyakinan Tolstoi sendiri. Seperti dikemukakannya dalam cerita panjang “Catatan Pangeran Nekhlyudov� (1857), manusia “sia-sia berusaha memisahkan kebajikan dari kejahatan dalam samudra kehidupan yang tak henti-hentinya berubah dan mencampur-adukkan yang baik dan yang buruk� karena tak mampu menangkap dan memahami semua hakikat tingkah-laku orang lain. Di antara orang yang berpendapat demikian dan tak sudi mengadili tingkah-laku Anna termasuk corong sikap dan gagasan penulis, Konstantin Levin, yang berkata tentang Anna sebagai berikut: “Bukan hanya pandai, tapi ramah luarbiasa. Betul-betul aku kasihan padanya!� (Bagian Ketujuh, Bab XI) Tolstoi tak sudi menyelesaikan novelnya dengan gambaran tragis kematian tokoh utama. Ia sengaja menambah satu bagian lagi untuk meredam situasi. Kelanjutan itu perlu juga bagi Tolstoi guna memaparkan pandangannya mengenai bermacam-macam masalah sosial dan filsafat melalui Kostantin Levin. Masalah-masalah itu mencakup situasi ekonomi dan sosial di Rusia, yakni adanya jurang mahadalam antara yang miskin dan yang kaya, maupun dan terutama problem-problem etis, termasuk pertanyaan abadi: buat apa manusia hidup di dunia ini, dan bagaimana meredam ketakutan terhadap malaikat maut.4 Mengenai situasi sosial di Rusia, Levin, seperti Tolstoi sendiri, selalu merasa malu dengan berlimpahnya materi di tanah miliknya dibandingkan dengan kemiskinan para petani di sekelilingnya. Ia mengidamkan kebahagiaan bersama bagi seluruh rakyat berkat suatu revolusi-tak-berdarah dengan kekuatan moral semata, usaha yang dilakukan oleh setiap insan dan seluruh rakyat dalam rangka kehidupan yang sesuai dengan alam pikiran obshchina: “Kekayaan dan kelimpahan sebagai ganti kemiskinan, kesetujuan dan keterkaitan kepentingan sebagai ganti permusuhan.� Pada waktu senggang ia pun menulis buku tentang ekonomi pertanian yang tujuannya demi menjamin kesepakatan dan kesejahteraan umum itu. Tapi dalam benak dan praktek kegiatannya sebagai tuan tanah, ia selalu insaf bahwa "kepentingan dirinya berbeda benar, tak terpahami, bahkan bertentangan dengan kepentingan mereka yang paling adil". (Bagian Ketiga, Bab XXIV) Pandangan etis-filosofis Tolstoi, yang melahirkan ajaran dan gerakan massal yang disebut tolstovstvo (tolstoisme), memperoleh rumusan awal justru dalam halaman-halaman penutup novel Anna Karenina. Melalui Konstantin Levin, Tolstoi dengan tegas menolak ajaran Darwin, yang bukunya masa itu diterjemahkan dan luas dibicarakan di Rusia. Dia menantang tesis pokok Darwin tentang perjuangan sengit di dunia alam demi eksistensi, yang disebarkan pula ke lingkungan manusia. Sebagai gantinya, Levin mengajukan dalil lain yang dipinjamnya dari ucapan seorang petani yang bekerja di tanah miliknya, bahwa manusia harus hidup bukan demi perut, tapi demi jiwanya, dengan mengingat ajaran Isa Almasih. (Bagian Kedelapan, Bab IX) Tokoh kesayangan Tolstoi itu mengemukakan keyakinannya bahwa ajaran yang hampir sama juga terkandung dalam semua agama di dunia, biarpun ia mengakui tak banyak tahu tentang semua agama itu. Perlu ditambahkan di sini bahwa melalui agama Tolstoi mencari dan menemukan gagasan-gagasan mengenai cinta terhadap sesama, dan menolak di dalamnya semua elemen mitologis dan supranatural, karena bertentangan dengan akal sehat. Dalam beberapa karya bergaya esai yang ditulis sesudah Anna Karenina, termasuk “Ispoved� (Pengakuan Dosa, 1880), “V Chom Moya Vyera� (Dalam Apa Terkandung Kepercayaan Saya, 1884), “Tak Chto Zhe Nam Dyelat?� (Jadi, Apa yang Mesti Kita Lakukan?, 1886), “Rabstvo Nashego Vryemeni� (Perbudakan Masa Kita), “Tsarstvo Bozhiye Vnutri Nas� (Kerajaan Tuhan Ada di Dalam Diri Kita), dll., Tolstoi bermaksud mengembangkan “gagasan Levin� tentang revolusi-tak-berdarah dan cinta terhadap sesama manusia dengan menambah dalil perlawanan pasif terhadap perintah atau peraturan penguasa yang tak manusiawi (prinsip ini pada awal abad ke-20 dipinjam oleh Mahatma Gandhi di India sebagai senjata ampuh melawan penjajah Inggris). Dalam esai-esai itu ia juga mencanangkan bahwa lembaga keningratan harus dihapuskan, karena keberadaan golongan bangsawan dalam masyarakat dijamin lewat perbudakan petani (yang ternyata terus dipraktekkan, biarpun secara ekonomi) dan lewat yuridiksi negara serta praktek keagamaan yang membela kepentingan golongan berkuasa. Gagasan terakhir itu justru bertentangan dengan posisi Levin (dan Tolstoi semasa Anna Karenina!), yang bangga akan keningratannya dan tak tergiur dengan semua golongan masyarakat lain beserta tendensi terbarunya, biarpun ia selalu mengagumi cara hidup dan pikiran para petani.

IV

Cukup menarik bahwa simpati pembaca terhadap Anna tak selalu menular kepada tokoh yang paling sempurna, Konstantin Levin. Istri Tolstoi serta kebanyakan kenalan dekatnya juga tak menyukai insan kamil itu dan enggan menyamakan sepenuhnya Leo Tolstoi dengan Levin (nama keluarga tokoh itu berasal dari nama Lev!). Mereka bilang, seandainya Levin adalah Lev, maka Tolstoi itu bukan Tolstoi yang pujangga, melainkan hanya Tolstoi yang guru kesusilaan. Biarpun agak marah terhadap penilaian itu, Tolstoi sebagai pujangga juga meragukan kebenaran posisi tokoh kesayangannya itu. Keraguan itu sudah terlihat jelas di Bagian Pertama novel melalui kata-kata Stiva Oblonskii, yang watak egoistisnya amat berbeda dengan watak Levin: “Kamu orang yang sangat utuh. Ini merupakan hal positif yang ada pada dirimu, tapi juga negatif. Watakmu begitu utuh, dan kamu mau agar seluruh dunia tersusun dari gejala-gejala yang utuh, sedangkan sebetulnya hal seperti itu tak pernah ada […] Semua keanekaragaman, semua kejelitaan, semua keindahan hidup ini terdiri atas cahaya dan bayangan.� (Bagian Pertama, Bab XI) “Semua keanekaragaman, semua kejelitaan, semua keindahan hidup ini terdiri atas cahaya dan bayangan.� Tolstoi pasti menyetujui pernyataan ini, biarpun gagasan abstraknya, yang diucapkan oleh mulut dan pikiran Levin, banyak yang berat sebelah. Sebenarnya Tolstoi, dalam semua karyanya, justru menghimbau agar pembaca mencintai kehidupan dalam keragaman perwujudannya yang tak kunjung jenuh—begitulah tujuan kesenian menurut kata-kata Tolstoi sendiri. Jalan hidup, pikiran, tingkah-laku, bahkan tabiat tokoh-tokoh novel Anna Karenina juga terdiri atas cahaya dan bayangan, ciri-ciri gelap dan terang, ciri-ciri positif dan negatif, yang saling bercampur dan bergelut seperti pada semua manusia di dunia ini. Dan itulah sebabnya tokoh-tokoh itu dihayati oleh pembaca sebagai makhluk yang berdarah-daging, yang berjalan di samping kita.

Prof. Willen V. Sikorsky

Ahli Sastra Indonesia, tinggal di Moskwa

1 Lihat: feb-web.ru/feb/Tolstoi/teksts.

2 Peraturan perceraian masa itu dijelaskan dalam berkala Golos (Suara) tahun 1873, ketika Tolstoi mulai menulis novelnya. Dalam terbitan ini, antara lain, dikatakan bahwa orang yang mengaku bersalah telah berzina, selain diharuskan bertobat (di gereja), akan dicabut haknya untuk kawin lagi. Tentu ada bermacam-macam jalan keluarnya, tapi Anna tentu tak sudi memakainya.

3 Kritik sosial paling pedas terhadap kemunafikan golongan berkuasa, peraturan negara, serta gereja resmi dikemukakan dalam novel Tolstoi yang ketiga, Voskresenyiye (Kebangkitan). Inilah novel yang mengakibatkan terkucilnya Tolstoi dari Gereja Ortodoks dan diekskomunikasikan. (Novel ini sudah diterjemahkan oleh Koesalah Soebagyo Toer dan diterbitkan oleh Pustaka Populer Gramedia, 2005).

4 Pendekatan serupa terdapat dalam novel Keluarga Gerilya karya Pramoedya Ananta Toer yang pasti dipengaruhi oleh posisi Tolstoi. Dalam novel Pramoedya itu, tokoh utamanya tak sudi melarikan diri dari penjara menjelang pelaksanaan hukuman tembak oleh serdadu Belanda. Sang tokoh yakin bahwa tindakannya yang keji dalam perang harus dibalas, biarpun perbuatan itu tak terelakkan dan bakal diulanginya lagi jika perlu.

 

"Anna Karenina sampai sekarang masih terus disalin dan diterbitkan dalam berbagai bahasa. Hingga akhir abad ke-20, novel ini telah diterjemahkan dan diterbitkan 625 kali dalam 40 bahasa (tidak termasuk bahasa aslinya). Dalam bahasa Inggris saja, hasil terjemahan yang berbeda pernah dicetak 75 kali, Belanda 14 kali, Jerman 67 kali, Prancis dan Itali 36 kali, Cina 15 kali, dan Arab 6 kali. Terjemahan Indonesia ini sendiri dilakukan dua kali oleh penerjemah yang sama, Koesalah Soebagyo Toer, langsung dari bahasa Rusia."

Member baru? daftar di sini, gratis!
Lupa password? klik disini

Buku oleh Penulis

Anna Karenina II

Anna Karenina II

65,000.00 55,250.00 (Anda hemat 9,750.00)
0